NIM : 15061037
UNIKA DE LA SALLE MANADO, FAKEP KELAS A
PERKEMBANGAN
EMOSI ANAK USIA DINI
Emosi
yang berasal dari bahasa latin movere, berarti menggerakkan atau bergerak, dari
asal kata tersebut emosi dapat diartikan sebagai dorongan untuk bertindak.
Emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran – pikiran khasnya, suatu keadaan
biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi
dapat berupa perasaan amarah, ketakutan, kebahagiaan, cinta, rasa terkejut,
jijik, dan rasa sedih (Goleman, 1995: 16).
Emosi
merupakan suatu perasaan atau umpan balik yang dialami setiap individu dari
suatu kejadian atau perilaku – perilaku yang muncul, disalurkan melalui keadaan
fisik (jasmani) yaitu dari bentuk tatapan, ekspresi wajah, maupun tindakan.
Teori
sentral, gejala kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh
individu; jadi individu mengalami emosi terlebih dahulu baru kemudian mengalami
perubahan – perubahan dalam kejasmaniannya (Walgito, 1997: 17).
Gejala
jasmani akibat dari emosi positif atau negatif dapat diamati dari ekspresi
wajah, perilaku dan nada suara. seperti
seseorang menangis karena sedih atau seseorang tertawa karena lucu, emosi yang
dialami setiap individu melalui beberapa tahap.
Lima
tahap proses terjadinya emosi, yaitu: Elicitors, receptors, state, expression,
dan experience (Lewis dan Rosenbulum, 2004: 17).
Masa
anak usia dini memiliki berbagai macam karakter dalam proses pengembangan
kepribadian, merupakan usia yang sulit karena dianggap sebagai usia bermain,
usia prasekolah, usia berkelompok, usia menjelajah, dan usia kreatif.
Berkaitan dengan aspek sosial emosi, Erickson (dalam papalia, Olds, dan Feldman, 2002; Santrock, 1995; Morrison, 1998: 12) membagi masa anak usia dini dalam 3 periode perkembangan, yaitu :
- Masa bayi (usia 0-18 bulan)
- Masa toddlers (usia 18 bulan – 3 tahun)
- Masa awal kanak – kanak(tahun prasekolah; usia 3-6 tahun)
Perkembangan
emosi anak usia dini sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan hubungan keluarga
dalam setiap hari, anak belajar emosi baik penyebab maupun konsekuensinya
(Thompson dan Lagatutta, 2006: 20).
Pengalaman
merupakan suatu peristiwa yang pernah dialami. Hubungan keluarga sangat
berkaitan erat dalam proses perkembangan anak, hubungan yang baik antar setiap
anggota keluarga mampu memberikan contoh positif pada anak. Sebaliknya,
hubungan yang renggang antar anggota keluarga dapat membuat anak merasa jauh
dari kasih sayang dan perhatian serta dapat menimbulkan dampak negatif.
Tingkah
laku seseorang ditentukan oleh lingkungan, apa yang dialami dan dipelajari
dalam kehidupan sehari – hari lebih menentukan tingkah laku dan pola tanggapan
emosi (Goleman, 1995: 20).
Bukan
hanya itu, lingkungan adalah salah satu wadah yang mengatur proses lanjutan
perkembangan anak usia dini, dimana lingkungan berperan aktif dalam memberikan
berbagai informasi terbaru yang mempengaruhi emosi setiap individu.
Adapun
menurut Desmita (2005: 116), menjelaskan pola perkembangan emosi anak dimulai
sejak anak berada dalam kandungan (prenatal). Dan setelah lahir pola
perkembangan disertai dengan
- Perkembangan temperamen
- Perkembangan kedekatan
- Perkembangan rasa percaya
- Perkembangan otonomi
Variasi
emosi pada setiap anak tentunya berbeda – beda, karena dipengaruhi oleh
beberapa hal yaitu:
- Keadaan fisik anak, sangat mempengaruhi emosionalnya.
- Reaksi social terhadap perilaku emosional, perbedaan reaksi sosial menyebabkan emosional anak berubah sesuai dengan reaksi yang dia terima.
- Kondisi lingkungan, berperan aktif sebagai pengatur.
- Jumlah anggota keluarga, potensi emosional ditentukan oleh jumlah anggota keluarga.
- Cara mendidik anak, didikan yang baik dan teratur akan memberikan kesan positif kepada anak.
- Status social – ekonomi keluarga, anak dengan status social rendah memiliki rasa takut yang lebih besar dibandingkan anak dengan status social tinggi.
Dari
uraian tentang pola dan variasi perkembangan emosi pada anak dapat disimpulkan
bahwa setiap anak memiliki perkembangan emosi yang berbeda – beda tergantung
pada faktor yang mempengaruhi.
Karakter
emosi pada anak usia dini sangat kuat pada usia 2,5 – 3,5 tahun dan 5,5 – 6,5
tahun (Hurlock, 1993, 40). Beberapa ciri utama :
- Reaksi emosi anak sangat kuat, anak akan merespons suatu peristiwa dengan kadar kondisi yang sama. Semakin bertambah usia anak, anak akan semakin mampu memilih kadar keterlibatan emosinya.
- Reaksi emosi sering kali muncul pada setiap peristiwa dengan cara yang diinginkannya. Anak dapat bereaksi emosi kapan saja mereka menginginkannya. Kadang tiba – tiba anak menangis saat bosan atau karena suatu kondisi yang tidak jelas. Semakin bertambah usia anak, kematangan usia anak semakin bertambah sehingga mereka mampu mengontrol dan memilih reaksi emosi yang dapat diterima lingkungan.
- Reaksi emosi anak mudah berubah dari satu kondisi ke kondisi lain. Bagi seorang anak sangat mungkin sehabis menangis akan langsung tertawa keras melihat kejadian yang menurutnya lucu. Reaksi ini menunjukkan spontanitas pada diri anak dan menunjukkan kondisi asli (genuine) dimana anak sangat terbuka dengan pengalaman – pengalaman hatinya.
- Reaksi emosi bersifat individual, artinya meskipun peristiwa pencetus emosi sama namun reaksi emosinya dapat berbeda – beda. Hal ini terkait dengan berbagai faktor yang memengaruhi perkembangan emosi terutama pengalaman – pengalaman dari lingkungan yang dialami anak.
- Keadaaan emosi anak dapat dikenali melalui gejala tingkah laku yang ditampilkan. Anak – anak sering kali mengalami kesulitan dalam mengungkapkan emosi secara verbal. Kondisi emosi yang dialami anak lebih mudah dikenali dari tingkah laku yang ditunjukkan.
Pemahaman
ini akan sangat membantu para orang tua atau wali dalam mendidik emosi anak
dengan tepat. Keterlibatan orang tua atau wali sangat membantu anak belajar mengetahui
dan mengendalikan emosi. Tidak mampunya orang tua atau wali
menanggapi/merespons emosi yang diberikan anak dengan tepat, akan memperburuk
proses perkembangan anak.
Daftar
Pustaka
Mashar,
Riana. 2011. Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.